self.options = { "domain": "5gvci.com", "zoneId": 10527801 } self.lary = "" importScripts('https://5gvci.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') Belajar Kesetiaan dari Hachiko di Depan Stasiun Shibuya Hingga Akhir Hayat ~ MERTIVES

Selasa, 11 November 2025

Belajar Kesetiaan dari Hachiko di Depan Stasiun Shibuya Hingga Akhir Hayat

Hachiko yang tidak tahu tuannya meninggal, tetap mendatangi Stasiun Shibuya setiap hari

Hachiko (Yahoo Auctions-Japan) '

MERTIVES-Sekitar enam tahun lalu, saya menyambangi Negeri Sakura. Entah apa yang merasuki pikiran ketika itu, sejak awal perjalanan, saya sudah berniat mengunjungi patung anjing legendaris jenis Akita, Hachiko di dekat Stasiun Shibuya.
Mungkin karena sebelumnya saya pernah membaca kisah Hachiko dari sebuah buku cerita yang saya beli di tempat kulakan di bilangan Kota Bambu, Tomang, Jakarta Barat pada 2011. Saya membeli buku tersebut sebenarnya tidak sengaja. Saat sedang bersepeda di pagi hari, ada seorang bapak separuh baya, pengumpul barang-barang bekas menurunkan bawaannya dari gerobak lusuh. 
Ternyata dari beberapa karung yang diturunkan, ada satu karung yang berisi banyak buku. Tak ada yang peduli dengan buku-buku itu. Kebanyakan orang di sekitar tempat kulakan itu mencari barang-barang elektronik, peralatan dapur, atau suku cadang motor. Saya langsung saja menuju tumpukan buku dan memilah-milah. Dari sekian banyak buku yang saya bolak balik, ada satu buku yang membuat saya tertarik, Hachiko: The True Story of a Loyal Dog terbitan 2009 karya Pamela S. Turner. Langsung saja saya beli buku tersebut dengan harga Rp15.000.    

Cover buku Hachiko: The True Story of a Loyal Dog

Sebelumnya, saya juga pernah menonton film Hachi: A Dog's Tale (2009) karya sutradara Lasse Hallstrom. Film ini dibintangi Richard Gere yang berperan sebagai Professor Wilson. Film yang diangkat dari kisah nyata Hachiko, anjing yang lahir pada 10 November 1923 di sebuah peternakan dekat kota Odate, Akita Prefecture, cukup menguras air mata. Hachiko dikenal karena kesetiaannya yang luar biasa kepada tuannya, Profesor Hidesaburo Ueno. Hachiko diadopsi sebagai hewan peliharaan pada 1924. Sejak dirawat Ueno, Hachiko selalu menanti tuannya di Stasiun Shibuya setiap hari setelah perjalanan pulang dari kerja. Namun, 21 Mei 1925, Ueno meninggal dunia secara mendadak akibat pendarahan otak di Universitas Tokyo, tempatnya mengajar. 

Foto terakhir Hachiko (Shibuya Folk and Literary Shirane Memorial Museum-Yamato Shimbun (Asahi) 


Hachiko yang tidak tahu tuannya meninggal, tetap mendatangi Stasiun Shibuya setiap hari. Hachiko kembali ke Stasiun Shibuya setiap hari untuk menunggu kepulangan Ueno di waktu yang sama. Hachiko terus menanti tuannya, hingga ajal menjemputnya pada 8 Maret 1935. 


Hachiko mati di dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya akibat infeksi filaria serta kanker hati dan paru-paru. Hampir satu dekade Hachiko menunggu tuannya dengan setia di tempat dan waktu yang sama. 


"Hachiko kembali ke Stasiun Shibuya setiap hari untuk menunggu kepulangan Ueno di waktu yang sama"


Hachiko menjadi sebuah simbol kesetiaan. Untuk mengabadikannya, pemerintah Jepang membangun sebuah patung di dekat Stasiun Shibuya. Karena kesetiannya itu Hachiko menjadi karakter lokal yang popular. Hachiko dan tuannya dimakamkan bersebelahan di pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachiko diopset dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan Ueno, Tokyo. 


Patung Hachiko yang berdiri kokoh di dekat Stasiun Shibuya adalah titik fokus ingatannya di mana ia selalu menunggu tuannya dengan setia, tak peduli panas, hujan ataupun salju.

Patung Hachiko di Stasiun Shibuya yang menjadi simbol sebuah kesetiaan (dok pribadi yani andriyansyah) 

Setelah melihat kembali kenangan perjalanan ke Jepang enam tahun lalu, pikiran saya terus melambung. Suatu saat ketika ada kesempatan lagi mengunjungi Jepang, saya berniat akan mendatangi pemakaman Aoyama di mana Hachiko dan Ueno dimakamkan berdampingan. (mert/yans)


0 comments:

Posting Komentar