self.options = { "domain": "5gvci.com", "zoneId": 10527801 } self.lary = "" importScripts('https://5gvci.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') 2023 ~ MERTIVES

Pesona Broken Beach

Panorma menakjubkan di Nusa Penida yang menjadi salah satu destinasi wisatawan

Kehidupan Suku Sasak Ende

Masyarakat Suku Sasak Ende selalu menjaga kelestarian budaya

Kisah Villa Hantu Lombok, Tempat Pembuangan Bayi yang Instagramable

Dulu diyakini sebagai tempat pembuangan bayi kini jadi salah satu destinasi wisata

Burung Merak Hijau nan Anggun

Satwa ikonik di Taman Nasional Baluran

Hachiko, Kisah Kesetiaan Seekor Anjing

Hachiko mendatangi Stasiun Shibuya setiap hari hingga ajal menjemput

Minggu, 16 Juli 2023

Suatu Sore Saat Indra Pendengaran Terhipnotis Alunan Syahdu Sasando


Andovi da Lopez dan Nusa Tuak dalam gelaran Sasando Rhapsody  (dokumen Galeri Indonesia Kaya) 

MERTIVES-Sore hari, 15 Juli 2023. Ada yang menarik di panggung Galeri Indonesia Kaya. Sebagai orang awam soal musik, apalagi musik tradisional, entah apa yang merasuk saat itu. Saya merasa terhipnotis ketika mendengar alunan musik dari alat musik tradisional asal Nusa Tenggara Timur, sasando. Entah apa juga yang membuat saya bisa terdiam duduk terpaku menikmati sajian bertajuk Sasando Rhapsody yang dimeriahkan Nusa Tuak dan juga kreator konten Andovi da Lopez. 

Saya mencoba cari tahu lewat gawai, siapa Nusa Tuak? Rupanya mereka adalah grup musik yang berupaya mengenalkan alat musik sasando ke masyarakat luas. Terdiri dari Ganzerlana, Izhu, Utha Takalapeta bermain sasando, Rico Matahelumual bermain hawaiian ambon, Utha sebagai bassist, Pepi sebagai drummer, Martin Koehuan sebagai gitaris, Firdha Rachmadani dan Pepi Toy sebagai vokalis, dan Dicky Dayu bermain suling. 

Kembali ke Sasando Rhapsody. Saya bukan orang Nusa Tenggara Timur. Juga tidak terlalu memahami budaya dan kesenian wilayah tersebut. Tetapi begitu mendengar alunan sasando, alat musik legendaris asal NTT tersebut, saya dibawa hanyut serasa mengenal instrumen musik tersebut, termasuk lansekap kesenian dan kebudayaannya. Ini juga pertama kalinya saya mendengar sasando secara langsung.

Lagu lalean dan bolelebo yang dibawakan semakin membuat saya hanyut, tak hanya memanjakan telinga dengan melodi yang begitu syahdu, tetapi seakan membawa saya melanglang buana ke wilayah Indonesia Timur yang selama ini cuma saya kenal lewat dunia maya.

"Sasando seperti menyeruakkan aroma sihir yang melenakan indra pendengaran"

Saya seperti terhipnotis dengan irama musik yang membuncah dari sasando tersebut. Di tambah lagi dengan tata panggung yang intim, pencahayaan lembut dan proyeksi visual yang mendukung makin memperkuat pesona musik sasando. Seperti menyeruakkan "aroma sihir" yang melenakan indra pendengaran saya. Pertunjukan semakin epik dengan hadirnya seni lukis naratif, yang menggambarkan cerita melalui goresan yang selaras dengan melodi sasando bersama Diego Luister Berel.

Sejenak saya teringat replika sasando milik ayah yang ada di meja kerjanya. Oh begini rupanya bentuk asli alat musik berdawai asal Pulau Rote tersebut, dalam hati bergumam.Yang jelas, alat musik yang terbuat dari daun lontar yang melengkung dan berbentuk setengah lingkaran itu benar-benar indra pendengaran dan pikiran saya terhanyut ke Timur Indonesia. Sasando juga makin menguatkan niat saya untuk terus menambah khazanah berkesenian tradisional Indonesia. (mert/mahameru)

Jakarta, 15 Juli 2023.