MERTIVES-Manusia seringkali terperangkap dalam kenangan masa lalu. Tak selamanya manis. Tak jarang manusia menjadi tawanan kenangan pahit nan tragis. Tapi, itulah kodrat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki ruang dalam otaknya untuk menampung segala macam kenangan yang berhasil direkamnya. Seringkali pula kenangan berjalan pararel dengan cinta. Sebuah kolaborasi perasaan yang acapkali menjerumuskan sepasang manusia pada ”ketidakberdayaan”. Entah karena terlalu menikmati nuansa romantis atau berupaya keras melarikan diri dari lilitan kenangan kelam yang membuatnya terjerembab sangat dalam ke jurang keputusasaan. Tragedi inilah yang menimpa Andi Jatmika, warga negara Indonesia yang menjadi tawanan tanpa identitas di penjara Guantanamo.
Selama dua bulan dia diinterogasi dan menjalani siksaan. Tapi, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya yang keluh. Dia ditangkap oleh pasukan Amerika di pegunungan dekat Asmar, sebelah timur Afghanistan saat menenteng senapan Kalashnikov AK-47. Sebelum tertangkap, Andi yang sejatinya anak muda didikan pesantren di tanah Jawa telah melanglangbuana ke sejumlah negara. Mulai dari Tunisia, Sisilia di Italia hingga Afghanistan. Ironisnya, dia mengangkat senjata bukan karena membela ideologi. Tapi, sebagai pelarian untuk melupakan kisah cintanya yang tragis setelah ditinggalkan Larasati, kekasihnya yang meninggal akibat kelainan jantung bawaan.
Ya, Sati, begitu Andi memanggil kekasihnya, telah membuat dirinya kehilangan separuh jiwanya dan terus berkelana mencari cinta sejati yang tak kunjung dijumpainya.Pengembaraan Andi untuk melepaskan diri dari setumpuk kenangan pahit inilah yang diungkapkan Qaris Tajudin dalam novel perdananya, Mahasati.Kisah pengembaraan mengubur masa lalu yang justru berakhir tragis di Penjara Guantanamo.
"Mahasati adalah penggambaran sebuah ritual panjang seorang laki-laki dalam pengembaraan mencari cinta sejati"
Novel ini berhasil memadukan kisah cinta yang tulus dan lekat dengan pengembaraan untuk melupakan dan menemukan. Sebuah pengembaraan tanpa perencanaan. Termasuk gelora dan semangat pergerakan kaum muda dan pencarian jati diri lewat pergolakan batin. Qaris berhasil menuturkan dengan bahasa yang cerdas, puitis, dan berani. Bahkan, berkat pengalamanya sebagai jurnalis di sebuah media nasional, Qaris bisa menceritakan secara detail setiap pergolakan yang terjadi di Tunisia, Sisilia dan Afghanistan pada masa kekuasaan Taliban, tanpa bertele-tele. Mahasati adalah nama sebuah patung di India yang dibangun untuk mengabadikan sebuah ritual kuno tentang kesetiaan istri-istri terhadap suami. Sang istri rela bunuh diri menceburkan tubuhnya ke dalam api perabuan suaminya sebagai simbol kesetiaan. Tradisi itu dikenal dengan nama Sati.
Sebuah nama yang mirip dengan nama tokoh dalam novel ini. Kisah dalam novel ini bermula dari persahabatan tiga kawan karib semasa kecil di tanah Jawa, Andi, Larasati, dan Yoyok yang kerap disapa Item. Persahabatan ketiganya terus berlangsung hingga remaja. Sebuah proses alamiah tentang perasaan cinta tumbuh diantara Andi dan Sati. Sayang, benih cinta sepasang anak manusia itu hanya mekar sesaat. Hubungan keduanya sebagai sepasang kekasih kandas jelang tamat SMA. Ternyata keduanya lebih menikmati sebagai teman. Tidak ada yang istimewa ketika mereka menjalin kasih. Keduanya benar-benar berpisah setelah tamat SMA.
Nasib dan perjalanan waktu memisah ketiganya untuk menjalani jalan hidupnya masing-masing. Andi kuliah di Jakarta dan akhirnya menjadi seorang wartawan. Yoyok menjadi seorang perajin emas di kota kelahirannya, dan Sati menjadi seorang desainer di Jakarta. Sati terpaksa lari ke Jakarta setelah berkonflik dengan ayahnya. Kematian Yoyok akibat kecelakaan ledakan tabung gas di tempat usahanya, membuat Andi dan Sati kembali bertemu setelah puluhan tahun berpisah. Keduanya bertemu saat pemakaman Yoyok. Mereka mencoba membuka kembali tentang kenangan indah yang pernah terbangun. Masih tersisakah kenangan yang bisa dipugar kembali menjadi sebuah bangunan cinta yang kokoh? Andi berharap bisa merajut kembali cinta sejatinya dengan Sati, yang telah memiliki seorang putri, Rania, hasil hubungan gelapnya dengan lelaki lain.
Meski begitu, Andi tetap mencintainya lebih dari apapun. Sati di mata Andi adalah sosok wanita laksana oase di gurun tandus.Tapi, bahtera cinta keduanya kembali kandas. Kali ini lebih tragis. Sati meninggal dunia tatkala cinta lama mereka tengah dirajut helai demi helai. Sati menemui ajal lantaran menenggak valium dalam dosis tinggi. Sati frustrasi akibat hak perwalian terhadap Rania dicabut. Kehilangan Sati membuat separuh jiwa Andi ikut terkubur. Dia pun tenggelam dalam jurang frustrasi berkepanjangan dan harus menjalankan ritual Sati. Untuk mengubur semua kenangan indah bersama Sati, Andi pun memulai pengembaraan ke Kairouan, Tunisia.
Andi mengunjungi rumah keluarga Charief Saeed, kenalan Hafiz teman sekampungnya. Di tempat inilah Andi bertemu dengan Abdalla ben M’rad, pemilik toko buku. Di sinilah Andi berkenalan dengan Kemal, adik Abdalla, dan Ahmed, anak lelaki Abdalla. Keduanya adalah tokoh pergerakan Islam di Tunisia. Tanpa disadarinya, Andi telah masuk dalam lingkaran kelompok pergerakan penentang pemerintah Tunisia. Bagi Andi, apa yang dilakukannya bukanlah berdasarkan ideologi. Semata-mata hanya karena ingin melupakan bayang-bayang Sati. Termasuk ketika dia bertemu Miriam, seorang gadis Yahudi, mahasiswi sastra Universitas Kairouan yang mencintainya. Andi tidak bisa menerima Miriam apa adanya karena dia masih belum bisa melupakan Sati.
Penangkapan para anggota pergerakan oleh pemerintah Tunisia membuat Andi harus meninggalkan Kairouan. Lagi-lagi dia harus menjalankan pengembaraan. Lewat bantuan Miriam, dia dan Ahmed berhasil menyelundup ke Sisilia. Hingga akhirnya kedua pemuda tersebut masuk ke dalam jaringan mafia kelas atas di Sisilia. Tapi, perjalanan hidup Andi tidak berhenti sampai disitu. Konflik yang terjadi di kalangan mafia Sisilia membuatnya harus meninggalkan Italia. Kini tujuannya adalah Afghanistan, negeri yang tengah berkecamuk perang saudara antara pasukan Taliban dan Mujahidin. Pertemuannya dengan Fairuz, membuatnya menetapkan pilihan untuk menjadi pengawal bersenjata suku-suku nomaden di pegunungan Hindu Kush.
Di medan pegunungan yang berbahaya itulah ia bertemu dengan Nafas, sosok perempuan yang nyaris menyerupai Sati. Akhirnya Andi tertangkap dan dibawa ke Guantanamo karena dianggap sebagai anggota kelompok yang dianggap negera Barat sebagai ”teroris”.Selama dua bulan di Guantanamo, Andi menjalani interogasi dan penyiksaan. Pemerintah Amerika terus berupaya untuk mengorek keterangan dari dirinya. Tapi, Andi bersikukuhy mengunci mulutnya. Hingga akhirnya seorang interogator berdarah Asia, Lucia Wong diturunkan. Metode tanpa kekerasan yang diterapkan Lucia ternyata mampu membuka mulut Andi yang selama dua bulan bungkam.
Kepada Lucia, Andi mengisahkan perjalanan hidupnya secara langsung dan melalui tulisannya di sebuah buku yang ditulisnya di penjara.Dengan sudut pandang bercerita yang bergantian antara Andi dan Lucia, novel ini terkesan berkisah melompat-lompat. Tapi, itulah seninya yang membuat pembaca harus terus membuka lembar demi lembar agar cerita terangkai utuh. Meski digarap secara cerdas dan apik, novel ini masih menyisakan pertanyaan yang tak terjawab. Misalnya, saat Sati secara tiba-tiba memiliki kelainan jantung bawaan. Padahal, saat kecil Sati berhasil menang tarung balap sepeda dengan Item. Terlebih, sebelumnya tidak pernah disinggung kalau Sati memiliki penyakit tersebut. Tapi, secara keseluruhan, Mahasati adalah penggambaran sebuah ritual panjang seorang laki-laki dalam pengembaraan mencari cinta sejati. (mert/yans) - (Repost)