self.options = { "domain": "5gvci.com", "zoneId": 10527801 } self.lary = "" importScripts('https://5gvci.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') Fakta Kehidupan Suku Sasak Ende, Hunian Asri hingga Urusan Kisah Asmara yang Unik ~ MERTIVES

Sabtu, 15 November 2025

Fakta Kehidupan Suku Sasak Ende, Hunian Asri hingga Urusan Kisah Asmara yang Unik


Anak-anak Suku Sasak Ende selalu menyambut tamu menggunakan tiga bahasa (mertives/yani andriyansyah)

MERTIVES-Indonesia dikenal sebagai negara dengan beragam budaya. Nah kalau kamu telisik dari ujung timur hingga barat, maka bakal ditemui ribuan ragam budaya. Uniknya setiap budaya di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing. Salah satunya adalah kehidupan budaya masyarakat Suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

 

Saya beberapa waktu lalu sempat menelusuri kehidupan masyarakat Suku Sasak Ende di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Sebagian besar masyarakat Sasak Ende hidup sebagai petani. Di sini sedikitnya ada sekitar 30 rumah adat yang dihuni sekitar 130 orang. Oh iya, letak desa ini nggak jauh dari Bandara Internasional Lombok lho, hanya sekitar 20 menit saja.

 

Uniknya, Desa Ende merupakan salah satu desa wisata yang masih menjunjung tinggi nilai dan istiadat Suku Sasak di tengah gempuran kemajuan teknologi. Hal ini bisa terlihat dari bentuk bangunan bale tani atau rumah petani yang seluruh material bangunan terbuat dari alam.

 

Masuk ke desa ini pengunjung akan disambut sebuah gapura besar yang terbuat dari bambu dengan atap alang-alang. Di bagian atas tertulis jelas ucapan "Selamat Datang di Kampung Sasak Ende". Di sebelah gapura terdapat berugak (bale-bale) yang biasa ditempati para pemandu wisata. "Selamat siang," sambut Husin, pria paruh baya yang menjadi pemandu wisata.

 

Husin yang mengenakan baju batik dipadu dengan kain dan ikat kepala khas Suku Sasak ini mempersilahkan saya menelusuri jalan setapak dari tanah. Di muka desa, saya disambut ucapan selamat datang dari puluhan anak-anak. Kerennya lagi, mereka menggunakan tiga bahasa, Indonesia, Inggris, dan bahasa asli Sasak.

 

Cara ini dilakukan agar kearifan lokal dan budaya yang diwariskan nenek moyang, mulai dari cara hidup hingga tradisi Suku Sasak Ende tetap terjaga. Selain itu, anak-anak setempat diajarkan untuk menghormati setiap tamu yang datang. Ini salah satu cara kami mempertahankan keaslian budaya Sasak. Mereka (anak-anak) sejak kecil sudah diajarkan untuk menghormati tamu, kata Husin.

 

Tidak heran jika banyak wisatawan asing yang berkunjung ke sini. Umumnya mereka datang dari Eropa, Amerika, dan Australia. Saya sangat suka sekali dengan budaya masyarakat di sini. Sungguh kaya dan mereka menjaganya selama ratusan tahun. Mungkin cara ini sudah sangat jarang ditemui masyarakat modern, kata Maaike Michelle, wisatawan asal Belanda saat berbincang dengan saya. 

Bahan baku dari alam 

Seluruh rumah yang disebut bale tani (rumah petani) di kampung ini menggunakan bahan yang diambil dari alam (mertives/yani andriyansyah)


Seluruh jalan setapak di Kampung Ende masih asli terbuat dari tanah. Tidak ada semen apalagi aspal. Cara ini sebagai bentuk penghormatan kepada alam sehingga ketika hujan, seluruh air yang jatuh akan langsung diserap oleh tanah.   

 

Selain itu, seluruh rumah yang disebut bale tani (rumah petani) di kampung ini menggunakan bahan yang diambil dari alam. Lantainya dibuat lebih tinggi dari jalan dengan menggunakan batu yang disusun sebagai fondasi. Lalu, bagian lantai itu akan diisi tanah liat yang selanjutnya dipadatkan. Penggunaan tanah liat karena masyarakat Suku Sasak mempercayai manusia terbuat dari tanah. Sementara dinding rumah terbuat dari anyaman bambu dan atapnya dari alang-alang yang dirajut. Atap ini akan diganti tujuh tahun sekali. Nah di kampung ini tidak boleh mendirikan bangunan modern.

 

Uniknya, lantai dari tanah liat itu akan dilumuri semen merek “4 kaki” alias kotoran sapi atau kerbau. Fungsi kotoran ternak ini untuk merekatkan tanah liat agar tidak mudah retak. Selain itu, kotoran kerbau dipercaya sebagai simbol kerja keras petani. Nah manfaat lainnya, kotoran ternak ini bisa mengusir nyamuk saat musim panas.  

 

Setiap rumah selalu memiliki atap bagian depan yang pendek. Cara ini adalah sebuah simbol bagi setiap tamu yang akan masuk harus membungkukkan kepala sebagai bentuk penghormatan untuk tuan rumah. Nah kalau kamu masuk ke rumah orang Sasak wajib mengucapkan tabe balar yang artinya permisi. Setiap rumah hanya memiliki satu pintu yang juga dibuat lebih pendek dengan sedikit sinar matahari yang masuk. Sedangkan dapur dan kamar mandi berada di luar rumah.  

Suami isteri tidur terpisah

Masyarakat Suku Sasak Ende memiliki kehidupan keluarga yang unik (mertives/yani andriyansyah)


Setiap rumah dihuni satu keluarga. Bagian dalam untuk perempuan dan laki-laki tidur di luar. Nah pasangan yang baru menikah masih boleh tidur bersama di dalam. Ya istilahnya memberikan kesempatan pada mereka untuk bulan madu. Tapi setelah memiliki anak, mereka harus tidur terpisah. Tapi bukan untuk selamanya lho. Sang suami ketika ada keperluan khusus untuk masuk maka dia harus permisi terlebih dahulu kepada si isteri.

 

Ketika keluarga Suku Sasak memiliki anak perempuan, si anak bisa tidur dengan ibunya. Saat si anak beranjak remaja maka bagian dalam rumah harus disekat. Sebelah kanan untuk sang ibu dan sebelah kiri untuk anaknya. Nah kalau anaknya laki-laki beda lagi. Saat masih bayi, si anak bisa tidur bersama ibunya. Tapi setelah berusia tujuh atau delapan tahun, si anak harus tidur di luar dengan sang ayah. Unik ya? Nah dalam masyarakat Suku Sasak, anak laki-laki sangat penting untuk meneruskan garis keluarga.  

Kisah asmara yang unik  

Suku Sasak Ende punya budaya tersendiri untuk urusan cinta (mertives/yani andriyansyah)


Suku Sasak Ende punya budaya tersendiri untuk urusan cinta. Maklum mereka tidak mengenal istilah pacaran. Para cowok yang mau cari jodoh harus mencari gadis idamannya di dapur saat ada sebuah acara. Sebab, para gadis akan bertugas membantu urusan dapur. Nah di sinilah kesempatan para cowok mengincar gadis yang dia sukai. Uniknya, ketika sudah menentukan pilihan, maka gadis itu akan disenter sebagai penanda yang ia suka.

 

Tapi tidak menutup kemungkinan seorang gadis disukai lebih dari satu cowok. Kalau sudah begini tinggal si cowok yang harus kreatif melakukan pendekatan dengan mendatangi rumah si gadis di malam hari. Tapi nggak jarang, si gadis didatangi lebih dari satu cowok dalam waktu bersamaan.

 

Si gadis pun tidak boleh menolak kunjungan si cowok. Ketika cowok pertama berkunjung dan baru beberapa menit ngobrol dengan si gadis lalu datang cowok kedua, maka si cowok pertama harus meninggalkan rumah si gadis. Begitu juga untuk cowok ketiga, keempat dan seterusnya hingga batas waktu kunjungan berakhir yakni pukul 10.00 malam.   

 

Setelah sang gadis menentukan pilihan, maka dia pun sepakat untuk menjalin hubungan dengan cowok idamannya ke tingkat yang lebih serius. Biasanya akan dilakukan tradisi “kawin lari”. Si gadis bakal diculik oleh si cowok untuk di bawa ke rumah orangtuanya selama maksimal dua minggu. 

 

Ini bukan penculikan sungguhan. Waktu penculikan juga sudah disepakati antara si gadis dengan pasangannya. Tapi, aksi penculikan ini tidak boleh diketahui keluarga si gadis. Setelah itu, barulah nanti sang keluarga pria menghadap keluarga wanita dan pernikahan pun dilangsungkan dan pihak keluarga gadis tidak dapat menolak. Tidak ada pula tradisi seserahan atau hantaran yang dilakukan karena bagi mereka hal ini akan sangat memalukan jika dilakukan. Jika akan menikah dengan orang luar kampung, harus membayar denda yang cukup besar.

 

Bagi kaum pria Suku Sasak yang sudah dewasa, melakukan Tari Peresean adalah cara untuk membuktikan kejantanan. Tradisi ini dilakukan dua orang petarung (pepadu) untuk saling baku pukul. Kedua petarung dipersenjatai tongkat pemukul dari bilah rotan. Untuk melindungi tubuh, para petarung menggunakan tameng yang disebut Ende yang terbuat dari kulit kerbau yang cukup tebal. Tarian ini sudah diajarkan sejak kecil. Selain untuk membuktikan kejantanan, tarian ini juga dilakukan untuk meminta hujan.

Alat tenun dan baju hitam putih

Setiap rumah wajib memiliki alat tenun sederhana yang terbuat dari kayu (mertives/yani andriyansyah)

 

Menenun adalah pekerjaan turun temurun yang dilakukan kaum perempuan Suku Sasak. Karena itu, setiap rumah wajib memiliki alat tenun sederhana yang terbuat dari kayu. Oh iya, nggak cuma itu lho. Menenun juga menjadi syarat mutlak bagi kaum perempuan Suku Sasak untuk menikah. Jadi kalau belum bisa menenun maka nggak boleh menikah tuh. Ketika sudah berumah tangga, kain tenun yang dibuat si perempuan digunakan sebagai alas atau selimut ketika malam pertama.

 

Alat tenun ini akan diwariskan kepada anak perempuan secara turun temurun. Satu kain tenun bermotif subanale proses pembuatannya bisa memakan waktu sebulan. Nah subanale itu berasal dari kata Subhanallah. Kain tenun jenis ini rumit pembuatannya sehingga para penenun selalu menggelengkan kepala sambil mengucap Subhanallah.

 

Masyarakat Suku Sasak Ende juga punya cara berpakaian yang unik. Kaum perempuan menggunakan baju berwarna hitam yang melambangkan budaya. Sementara kaum pria menggunakan baju berwarna putih yang melambangkan agama. (mert/yans)






0 comments:

Posting Komentar