self.options = { "domain": "5gvci.com", "zoneId": 10527801 } self.lary = "" importScripts('https://5gvci.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') Catatan Perjalanan: Menjelajah “Surga” Bahari di Kepala Burung ~ MERTIVES

Jumat, 14 November 2025

Catatan Perjalanan: Menjelajah “Surga” Bahari di Kepala Burung



MERTIVES-Bukan rahasia lagi, Indonesia menyimpan sejuta destinasi wisata. Salah satunya Raja Ampat di Papua Barat. Maklum, daerah yang berada di wilayah Kepala Burung ini dikenal sebagai surga bahari dunia karena menyimpan jutaan potensi wisata bahari yang tidak dimiliki daerah lain di dunia. Berdasarkan data Conservancy International, daerah yang dulunya dikenal sebagai “Kalana Fat” ini menyimpan 540 jenis karang keras (75% dari total jenis di dunia), lebih dari 1000 jenis ikan karang, 700 jenis moluska.

 

Disamping itu, perairan “Pulau Raja-Raja” ini juga memiliki catatan tertinggi untuk gonodactyloid stomatopoad crustanceans, biota laut jenis udang-udangan. Dengan formasi keindahan bentang alam yang memuat gugusan pulau pasir putih ditambah laguna berwarna-warni serta kekayaan biota laut, tak heran jika Raja Ampat disebut sebagai surganya pecinta wisata bahari.

Selain menyimpan keindahan alam yang eksotis, Raja Ampat juga kaya akan budaya. Sebut saja Pulau Arborek, yang menjadi kampung wisata di Raja Ampat. Di mana di pulau yang asri ini jajaran rumah tertata rapih menjadi salah satu simbol dari budaya Papua di pesisir Papua Barat, khususnya di Raja Ampat.

 

Pantai di pulau ini sangat jernih. Tak heran jika Arborek menjadi salah satu tempat favorit untuk kegiatan snorkeling. Masyarakat Arborek memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga tempat tinggal mereka.

"Sasi merupakan benteng bagi masyarakat Arborek untuk menjaga kelestarian alam"

Pulau ini juga dikenal dengan aneka kerajinan, diantaranya topi yang terbuat dari pandan hutan dan noken, tas khas Papua yang dikalungkan di kepala. 

Kebiasaan masyarakat Arborek menjaga kelestarian alam sejatinya tidak terlepas dari keraifan lokal yang disebut “Sasi”. Budaya yang berlaku secara umum di Raja Ampat ini merupakan benteng bagi masyarakat sekitar untuk menjaga kelestarian alam.

 

Budaya ini diterapkan dalam setahun. Jika dalam masa Sasi, masyarakat Raja Ampat dilarang mengambil hasil laut di sekitar pulau. Mereka baru boleh menangkap ikan ketika Sasi dibuka, dan itu hanya berlaku selama satu minggu saja. Jika ada yang melanggar, maka akan dikenakan sanksi berupa denda materi. Lewat budaya Sasi yang berlaku turun temurun, keindahan dan kelestarian alam Raja Ampat bisa terus dipertahankan. (mert/yans)

0 comments:

Posting Komentar