self.options = { "domain": "5gvci.com", "zoneId": 10527801 } self.lary = "" importScripts('https://5gvci.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') MERTIVES: Featured

Pesona Broken Beach

Panorma menakjubkan di Nusa Penida yang menjadi salah satu destinasi wisatawan

Kehidupan Suku Sasak Ende

Masyarakat Suku Sasak Ende selalu menjaga kelestarian budaya

Kisah Villa Hantu Lombok, Tempat Pembuangan Bayi yang Instagramable

Dulu diyakini sebagai tempat pembuangan bayi kini jadi salah satu destinasi wisata

Burung Merak Hijau nan Anggun

Satwa ikonik di Taman Nasional Baluran

Hachiko, Kisah Kesetiaan Seekor Anjing

Hachiko mendatangi Stasiun Shibuya setiap hari hingga ajal menjemput

Tampilkan postingan dengan label Featured. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Featured. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Februari 2026

Punch dan Boneka Orangutan, Sepenggal Kisah dari Kebun Binatang Ichikawa yang Bikin Geger Jagat Maya


(dok.mainichi)

Di sudut kandang yang disebut "gunung monyet" di Kebun Binatang Ichikawa, Perfektur Chiba, Jepang, ada pemandangan yang membuat banyak orang berhenti lebih lama dari biasanya. Seekor bayi kera Jepang tampak memeluk boneka orangutan berbulu oranye. Ia menggenggamnya erat, seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar di dunia yang masih asing. Namanya Panchi-Kun yang biasa dipanggil Punch.

Usianya baru enam bulan. Bobotnya kini sekitar dua kilogram. Namun kisahnya sudah menyentuh puluhan ribu orang, baik yang datang langsung ke kebun binatang maupun yang mengenalnya lewat media sosial.

Lahir di Musim Panas, Ditinggalkan Sejak Hari Pertama

Punch lahir pada 26 Juli 2025 dengan berat hanya 500 gram. Ibunya, yang baru pertama kali melahirkan, kelelahan. Sejak hari kedua, tak ada tanda-tanda naluri merawat yang muncul. Dalam kelompok monyet, kadang ada “ibu asuh” alami—induk lain yang ikut membantu merawat bayi. Para penjaga sempat menunggu, berharap ada tangan lain yang terulur. Namun itu tak terjadi.

Akhirnya, dua penjaga muda mengambil alih peran yang tak mudah itu, Kosuke Shikano, 24 tahun, dan Shumpei Miyakoshi, 34 tahun. Mereka memberi Punch susu, memantau kesehatannya, dan memastikan ia tetap berada dekat suara serta aroma kawanan agar suatu hari nanti bisa kembali menyatu.

Pengabaian induk, kata Shikano, memang bukan hal yang mustahil pada kelahiran pertama. Beban fisik dan stres bisa menjadi faktor. Namun bagi Punch kecil, itu berarti memulai hidup tanpa pelukan ibu.

Boneka Orangutan yang Jadi "Ibu"

(dok.mainichi)

Bayi monyet biasanya langsung menempel pada bulu induknya. Dari sanalah mereka belajar menggenggam, menguatkan otot, dan merasa aman. Punch tidak punya kesempatan itu. Para penjaga mencoba berbagai “pengganti”; handuk digulung, kain berbulu, hingga beberapa boneka. Dari semua pilihan, Punch menjatuhkan hatinya pada boneka orangutan berbulu tebal. Bulu sintetisnya mudah digenggam. Wujudnya menyerupai sesama primata. Mungkin, di situlah rasa aman muncul.

Malam hari, ketika kebun binatang sunyi dan lampu dipadamkan, Punch meringkuk bersama bonekanya. Ia memeluknya saat tidur. Shikano menyebut boneka itu sebagai “ibu pengganti”.

Momen Perkenalan yang Menggetarkan

Selama berbulan-bulan, waktu Punch di kandang ditambah sedikit demi sedikit. Ia perlu belajar bahasa tubuh kawanan, memahami hierarki, dan menemukan tempatnya. Pada 19 Januari 2026, Punch akhirnya diperkenalkan kembali sepenuhnya ke dalam kelompok. 

Awalnya, monyet-monyet lain tampak waspada. Ada yang mendekat dengan hati-hati, ada yang mengintimidasi. Punch, yang masih menggenggam bonekanya, sempat terlihat kebingungan. Foto dan video momen-momen itu tersebar luas di platform X. 

Ketika akun resmi kebun binatang memperkenalkan Punch, unggahan tersebut dibagikan ribuan kali. Tagar #HangInTherePunch pun bermunculan, mengajak orang-orang memberi semangat pada bayi kera kecil itu. Menurut data analitik media sosial Meltwater, puluhan ribu unggahan dan repost menggunakan tagar tersebut hanya dalam hitungan hari.

Banyak komentar bernada haru:
“Melihat Punch bertahan membuatku menangis.”
“Setiap hari aku membuka tagarnya dan meneteskan air mata.”
“Hatiku terasa lebih bersih setelah melihatnya.”

Takashi Yasunaga, Kepala Divisi Kebun Binatang dan Kebun Raya Pemerintah Kota Ichikawa, mengaku terharu melihat respons publik. Ia bahkan merasakan peningkatan jumlah pengunjung dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Tumbuh Pelan, Tapi Pasti

Kini, Punch masih menerima susu tambahan dari penjaga karena belum sepenuhnya mandiri dalam makan. Ia kadang menempel pada penjaga, kadang memilih duduk sendiri, sedikit menjauh dari kawanan. Namun ada perubahan.

Ia mulai aktif mendekati monyet lain. Ia mencoba bermain. Ia belajar menghadapi teguran. Dan ketika dimarahi, ia tak butuh waktu lama untuk bangkit kembali. “Dia kuat secara mental,” kata Shikano.

Pada 14 Februari 2026, kerumunan besar berkumpul di sekitar kandang. Ketika Punch terlihat bermain sambil tetap memeluk bonekanya, terdengar seruan dari pengunjung, “Lucu sekali!” Kamera ponsel terangkat serempak.

Seorang pengunjung berusia 57 tahun dari Funabashi berkata pelan, “Melihatnya langsung lebih menggemaskan. Ia belum bisa melepaskan bonekanya, tapi saya ingin melihatnya perlahan menyatu dengan kelompok.”

Tapi kemudian sesuatu yang indah terjadi- sementara rekannya yang mewah tetap berada di sisinya

Kini, Punch mendapat pengalaman baru. Ia menemukan seorang ibu sambung dalam koloni yang mulai mengawasinya, menawarkan ikatan hangat yang belum pernah ia rasakan selama ini. Si ibu sambung mendekatinya, mencari kutu, dan memeluknya. Sesekali Punch memeluk si "ibu sambung". 

(X/@ichikawazoo)

Sebuah Pelajaran dari Seekor Bayi Kera

Kisah Punch mungkin sederhana, bayi monyet, boneka, dan kebun binatang. Namun di balik itu ada cerita tentang kehilangan, adaptasi, dan daya tahan. Ia belum sepenuhnya melepaskan boneka oranyenya. Mungkin suatu hari nanti ia akan melakukannya. Mungkin juga tidak.

Namun setiap langkah kecilnya—mendekat, bermain, bangkit lagi—mengingatkan banyak orang bahwa tumbuh dewasa bukan tentang tak pernah jatuh, melainkan tentang keberanian untuk mencoba lagi. Dan di sudut kandang monyet Ichikawa, seekor bayi kera kecil sedang belajar arti itu, hari demi hari.

Selasa, 11 November 2025

Belajar Kesetiaan dari Hachiko di Depan Stasiun Shibuya Hingga Akhir Hayat

Hachiko yang tidak tahu tuannya meninggal, tetap mendatangi Stasiun Shibuya setiap hari

Hachiko (Yahoo Auctions-Japan) '

MERTIVES-Sekitar enam tahun lalu, saya menyambangi Negeri Sakura. Entah apa yang merasuki pikiran ketika itu, sejak awal perjalanan, saya sudah berniat mengunjungi patung anjing legendaris jenis Akita, Hachiko di dekat Stasiun Shibuya.
Mungkin karena sebelumnya saya pernah membaca kisah Hachiko dari sebuah buku cerita yang saya beli di tempat kulakan di bilangan Kota Bambu, Tomang, Jakarta Barat pada 2011. Saya membeli buku tersebut sebenarnya tidak sengaja. Saat sedang bersepeda di pagi hari, ada seorang bapak separuh baya, pengumpul barang-barang bekas menurunkan bawaannya dari gerobak lusuh. 
Ternyata dari beberapa karung yang diturunkan, ada satu karung yang berisi banyak buku. Tak ada yang peduli dengan buku-buku itu. Kebanyakan orang di sekitar tempat kulakan itu mencari barang-barang elektronik, peralatan dapur, atau suku cadang motor. Saya langsung saja menuju tumpukan buku dan memilah-milah. Dari sekian banyak buku yang saya bolak balik, ada satu buku yang membuat saya tertarik, Hachiko: The True Story of a Loyal Dog terbitan 2009 karya Pamela S. Turner. Langsung saja saya beli buku tersebut dengan harga Rp15.000.    

Cover buku Hachiko: The True Story of a Loyal Dog

Sebelumnya, saya juga pernah menonton film Hachi: A Dog's Tale (2009) karya sutradara Lasse Hallstrom. Film ini dibintangi Richard Gere yang berperan sebagai Professor Wilson. Film yang diangkat dari kisah nyata Hachiko, anjing yang lahir pada 10 November 1923 di sebuah peternakan dekat kota Odate, Akita Prefecture, cukup menguras air mata. Hachiko dikenal karena kesetiaannya yang luar biasa kepada tuannya, Profesor Hidesaburo Ueno. Hachiko diadopsi sebagai hewan peliharaan pada 1924. Sejak dirawat Ueno, Hachiko selalu menanti tuannya di Stasiun Shibuya setiap hari setelah perjalanan pulang dari kerja. Namun, 21 Mei 1925, Ueno meninggal dunia secara mendadak akibat pendarahan otak di Universitas Tokyo, tempatnya mengajar. 

Foto terakhir Hachiko (Shibuya Folk and Literary Shirane Memorial Museum-Yamato Shimbun (Asahi) 


Hachiko yang tidak tahu tuannya meninggal, tetap mendatangi Stasiun Shibuya setiap hari. Hachiko kembali ke Stasiun Shibuya setiap hari untuk menunggu kepulangan Ueno di waktu yang sama. Hachiko terus menanti tuannya, hingga ajal menjemputnya pada 8 Maret 1935. 


Hachiko mati di dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya akibat infeksi filaria serta kanker hati dan paru-paru. Hampir satu dekade Hachiko menunggu tuannya dengan setia di tempat dan waktu yang sama. 


"Hachiko kembali ke Stasiun Shibuya setiap hari untuk menunggu kepulangan Ueno di waktu yang sama"


Hachiko menjadi sebuah simbol kesetiaan. Untuk mengabadikannya, pemerintah Jepang membangun sebuah patung di dekat Stasiun Shibuya. Karena kesetiannya itu Hachiko menjadi karakter lokal yang popular. Hachiko dan tuannya dimakamkan bersebelahan di pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachiko diopset dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan Ueno, Tokyo. 


Patung Hachiko yang berdiri kokoh di dekat Stasiun Shibuya adalah titik fokus ingatannya di mana ia selalu menunggu tuannya dengan setia, tak peduli panas, hujan ataupun salju.

Patung Hachiko di Stasiun Shibuya yang menjadi simbol sebuah kesetiaan (dok pribadi yani andriyansyah) 

Setelah melihat kembali kenangan perjalanan ke Jepang enam tahun lalu, pikiran saya terus melambung. Suatu saat ketika ada kesempatan lagi mengunjungi Jepang, saya berniat akan mendatangi pemakaman Aoyama di mana Hachiko dan Ueno dimakamkan berdampingan. (mert/yans)