self.options = { "domain": "5gvci.com", "zoneId": 10527801 } self.lary = "" importScripts('https://5gvci.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') November 2025 ~ MERTIVES

Pesona Broken Beach

Panorma menakjubkan di Nusa Penida yang menjadi salah satu destinasi wisatawan

Kehidupan Suku Sasak Ende

Masyarakat Suku Sasak Ende selalu menjaga kelestarian budaya

Kisah Villa Hantu Lombok, Tempat Pembuangan Bayi yang Instagramable

Dulu diyakini sebagai tempat pembuangan bayi kini jadi salah satu destinasi wisata

Burung Merak Hijau nan Anggun

Satwa ikonik di Taman Nasional Baluran

Hachiko, Kisah Kesetiaan Seekor Anjing

Hachiko mendatangi Stasiun Shibuya setiap hari hingga ajal menjemput

Rabu, 19 November 2025

Bersepeda di Pantai

Seorang turis mancanegara bersepeda menikmati suasana pantai timur Pulau Gili Trawangan. Pulau ini menjadi salah satu destinasi favorit para wisatawan baik lokal maupun mancanegara karena menawarkan keindahan dan pesona yang memukau.  Pulau ini juga bebas polusi karena kendaraan bermotor dilarang beroperasi di sini kecuali untuk petugas pengangkut sampah. Sepeda dan Cidomo (delman) menjadi moda transportasi yang digunakan para wisatawan dan masyarakat sekitar. (yani andriyansyah)

Lansekap Jakarta


Pemandangan lansekap pusat Kota Jakarta siang hari dilihat dari ketinggian. Gedung-gedung pencakar langit menjadi ciri khas kota metropolitan yang tak pernah letih bergeliat. Tugu Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia menjadi ikon kota yang tak pernah tergantikan dan selalu menjadi daya tarik tersendiri. (yani andriyansyah

Satwa Ikonik Taman Nasional Baluran


Burung Merak Hijau (Pavo muticus) penghuni Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, terutama di area Savana Bekol dan hutan, menjadi salah satu satwa ikonik yang dilindungi. Waktu terbaik untuk melihat merak adalah saat pagi dan sore hari, serta pada musim kawin (sekitar Agustus-Oktober) saat merak jantan memamerkan ekornya. (yani andriyansyah)

Antisipasi Banjir, Petugas PPSU Bersihkan Sistem Drainase

Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Duri Selatan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat membersihkan saluran air di Jalan Duri Selatan I. Kegiatan ini untuk mengantisipasi datangnya musim hujan agar dapat meminimalisir bahaya banjir. (yani andriyansyah)

 

Panorama Pasih Uug Nusa Penida

Broken Beach atau yang biasa disebut oleh masyarakat setempat sebagai Pantai Pasih Uug di bagian barat Nusa Penida ini menawarkan pesona deburan ombak yang menakjubkan. Dalam bahasa Bali, Pasih Uug artinya pantai yang rusak. Ini menjadi salah satu daya tarik wisata di Nusa Penida. (yani andriyansyah)

Senin, 17 November 2025

Pengen Laptop Murah tapi Cukup Tangguh? Coba Chromebook!

  



MERTIVES-Kalau kamu mau mencari komputer baru, terutama untuk anak sekolah, boleh jadi

Chromebook bisa jadi pilihan. Laptop jenis ini sering digunakan di sekolah karena berbagai alasan, salah satunya karena dibanderol dengan harga yang relatif terjangkau. Ada berbagai pilihan yang tersedia dengan harga di bawah Rp6 jutaan, terkadang kamu juga dapat menemukan yang bagus dengan harga di bawah Rp4 jutaan. 

 

Nah selama ini Chromebook dianggap sebagai laptop entry-level berbiaya rendah dengan fitur minimal, penyimpanan lokal terbatas, dan ketergantungan besar pada layanan Google. Semuanya disimpan di dalam cloud, sehingga beberapa siswa dapat menggunakan Chromebook yang sama dan mendapatkan pengalaman pribadi mereka sendiri. 

 

Semuanya terkait dengan akun Google dan hanya dapat diakses setelah pengguna masuk. Hal ini membuat Chromebook sangat menarik bagi siswa muda, tetapi juga bagus sebagai komputer sekunder atau alternatif laptop bagi mereka yang memiliki kebutuhan terbatas. 

 

Bergantung pada cloud

Google

Chromebook menjalankan sistem operasi ChromeOS, yang berpusat pada aplikasi berbasis cloud. Laptop ini tidak memerlukan solid-state drive (hardiskyang besar karena semua konten — foto, video, Google Docs, spreadsheet, dan presentasi — disimpan di server jarak jauh Google. Pengguna harus masuk ke akun Google untuk mengakses sebagian besar konten.

 

Salah satu manfaat utama dari pendekatan ini, kamu dapat mengerjakan file di satu laptop dan melanjutkan dari tempat kamu tinggalkan di perangkat lain. Kamu akan melihat semua perubahan yang tercermin pada Chromebook saat menggunakannya lagi, dan sebaliknya. 

 

Namun kekurangannyakamu tidak akan mendapatkan pemrosesan yang kuat, sebab RAM Chromebook biasanya sangat terbatas, sehingga tidak dapat mengikuti aktivitas yang intens, seperti multitasking dan permainan berat. Selain itu, penyimpanannya juga minimal, cukup untuk mengunduh aplikasi penting, dan mungkin beberapa untuk hiburan. Ditambah lagi, untuk meningkatkan (update) perangkat keras Chromebook juga tidak mudah, malah tidak mungkin.

 

Tetapi opsi itu justru cukup baik dari sisi keamanan, terutama bagi siswa yang menggunakan Chromebook di ruang kelas. Opsi tersebut juga membantu laptop agar tidak mendapat bebanyang berat dari aplikasi atau game. 

 

Bisa jadi laptop alternatif 

Google

Chromebook adalah teman yang ideal untuk siswa muda dan bagus untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Laptop ini juga bisa menjadi pilihan yang baik sebagai komputer sekunder bagi mereka yang terkadang bekerja dari rumah atau sering bepergian. Laptop ini sangat direkomendasikan untuk pengguna yang tidak terlalu paham teknologi yang menginginkan sesuatu yang mudah digunakan.

 

Chromebook paling baik untuk produktivitas saat digunakan dengan aplikasi Google, seperti Google Classroom, Gmail, Google Docs, Google Slides, Google Sheets, Google Meet, dan dengan model terbaru, Google Gemini. Tetapi yang perlu diingat, karena semuanya ada di cloud, kamu akan membutuhkan konektivitas internet untuk menyelesaikan sebagian besar tugas dan mengakses konten. Tetapi kamu juga dapat menggunakan Chromebook secara offline untuk hal-hal terbatas. Laptop ini juga cukup bagus untuk menjelajah web melalui Google Chrome, streaming dari situs populer seperti YouTube, dan produktivitas ringan. (mert/yans)

 

Sekarang kamu dapat membagikan lagu Spotify langsung ke Status WhatsApp di Android, begini caranya


spotify

MERTIVES-Spotify 
sedang menyiapkan fitur baru untuk pengguna Android. Fitur baru ini memungkinkan pengguna Android berbagi musik dan media di status WhatsApp mereka selama 24 jam. Pengguna juga dapat berbagi daftar putar atau trek dengan pratinjau audiopodcast, album, klip artis, dan buku audio.

Rencananya, fitur ini akan mulai diluncurkan pekan ini seperti dilansir dari posting blog Spotify baru-baru ini. Untuk membagikan konten streaming di WhatsApp, pengguna hanya perlu mengetuk opsi bagikan di sebelah trek atau daftar putar di aplikasi Spotify lalu mengetuk WhatsApp. Status tersebut akan menampilkan judul dan sampul album bersama dengan opsi Buka di Spotify yang memungkinkan pemirsa membuka trek di aplikasi Spotify mereka. Sementara itu, penonton juga dapat mendengar pratinjau audio singkat dari lagu tersebut untuk menentukan apakah lagu tersebut ditujukan untuk mereka atau tidak.

Nah fitur baru ini akan mulai diluncurkan secara global untuk pengguna gratis dan Premium. Spotify mengatakan bahwa pengguna akan melihat opsi di menu bagikan dalam beberapa minggu mendatang.


Selain itu, fitur ini juga memungkinkan pengguna mengirim musik, podcast, dan buku audio langsung ke teman di dalam aplikasi Spotify sebagai pesan.

 

Spotify juga bermitra dengan TikTok untuk menghadirkan pengalaman berbagi musik, podcast, dan buku audio yang sama kepada pengguna aplikasi video pendek. Raksasa streaming musik ini juga menghadirkan fitur serupa ke Snapchat, di mana pengguna dapat membagikan klip audio dari Spotify langsung di Snapchat Stories atau ke teman mereka melalui direct message (DM). (mert/yans)

Sabtu, 15 November 2025

Fakta Kehidupan Suku Sasak Ende, Hunian Asri hingga Urusan Kisah Asmara yang Unik


Anak-anak Suku Sasak Ende selalu menyambut tamu menggunakan tiga bahasa (mertives/yani andriyansyah)

MERTIVES-Indonesia dikenal sebagai negara dengan beragam budaya. Nah kalau kamu telisik dari ujung timur hingga barat, maka bakal ditemui ribuan ragam budaya. Uniknya setiap budaya di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing. Salah satunya adalah kehidupan budaya masyarakat Suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

 

Saya beberapa waktu lalu sempat menelusuri kehidupan masyarakat Suku Sasak Ende di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Sebagian besar masyarakat Sasak Ende hidup sebagai petani. Di sini sedikitnya ada sekitar 30 rumah adat yang dihuni sekitar 130 orang. Oh iya, letak desa ini nggak jauh dari Bandara Internasional Lombok lho, hanya sekitar 20 menit saja.

 

Uniknya, Desa Ende merupakan salah satu desa wisata yang masih menjunjung tinggi nilai dan istiadat Suku Sasak di tengah gempuran kemajuan teknologi. Hal ini bisa terlihat dari bentuk bangunan bale tani atau rumah petani yang seluruh material bangunan terbuat dari alam.

 

Masuk ke desa ini pengunjung akan disambut sebuah gapura besar yang terbuat dari bambu dengan atap alang-alang. Di bagian atas tertulis jelas ucapan "Selamat Datang di Kampung Sasak Ende". Di sebelah gapura terdapat berugak (bale-bale) yang biasa ditempati para pemandu wisata. "Selamat siang," sambut Husin, pria paruh baya yang menjadi pemandu wisata.

 

Husin yang mengenakan baju batik dipadu dengan kain dan ikat kepala khas Suku Sasak ini mempersilahkan saya menelusuri jalan setapak dari tanah. Di muka desa, saya disambut ucapan selamat datang dari puluhan anak-anak. Kerennya lagi, mereka menggunakan tiga bahasa, Indonesia, Inggris, dan bahasa asli Sasak.

 

Cara ini dilakukan agar kearifan lokal dan budaya yang diwariskan nenek moyang, mulai dari cara hidup hingga tradisi Suku Sasak Ende tetap terjaga. Selain itu, anak-anak setempat diajarkan untuk menghormati setiap tamu yang datang. Ini salah satu cara kami mempertahankan keaslian budaya Sasak. Mereka (anak-anak) sejak kecil sudah diajarkan untuk menghormati tamu, kata Husin.

 

Tidak heran jika banyak wisatawan asing yang berkunjung ke sini. Umumnya mereka datang dari Eropa, Amerika, dan Australia. Saya sangat suka sekali dengan budaya masyarakat di sini. Sungguh kaya dan mereka menjaganya selama ratusan tahun. Mungkin cara ini sudah sangat jarang ditemui masyarakat modern, kata Maaike Michelle, wisatawan asal Belanda saat berbincang dengan saya. 

Bahan baku dari alam 

Seluruh rumah yang disebut bale tani (rumah petani) di kampung ini menggunakan bahan yang diambil dari alam (mertives/yani andriyansyah)


Seluruh jalan setapak di Kampung Ende masih asli terbuat dari tanah. Tidak ada semen apalagi aspal. Cara ini sebagai bentuk penghormatan kepada alam sehingga ketika hujan, seluruh air yang jatuh akan langsung diserap oleh tanah.   

 

Selain itu, seluruh rumah yang disebut bale tani (rumah petani) di kampung ini menggunakan bahan yang diambil dari alam. Lantainya dibuat lebih tinggi dari jalan dengan menggunakan batu yang disusun sebagai fondasi. Lalu, bagian lantai itu akan diisi tanah liat yang selanjutnya dipadatkan. Penggunaan tanah liat karena masyarakat Suku Sasak mempercayai manusia terbuat dari tanah. Sementara dinding rumah terbuat dari anyaman bambu dan atapnya dari alang-alang yang dirajut. Atap ini akan diganti tujuh tahun sekali. Nah di kampung ini tidak boleh mendirikan bangunan modern.

 

Uniknya, lantai dari tanah liat itu akan dilumuri semen merek “4 kaki” alias kotoran sapi atau kerbau. Fungsi kotoran ternak ini untuk merekatkan tanah liat agar tidak mudah retak. Selain itu, kotoran kerbau dipercaya sebagai simbol kerja keras petani. Nah manfaat lainnya, kotoran ternak ini bisa mengusir nyamuk saat musim panas.  

 

Setiap rumah selalu memiliki atap bagian depan yang pendek. Cara ini adalah sebuah simbol bagi setiap tamu yang akan masuk harus membungkukkan kepala sebagai bentuk penghormatan untuk tuan rumah. Nah kalau kamu masuk ke rumah orang Sasak wajib mengucapkan tabe balar yang artinya permisi. Setiap rumah hanya memiliki satu pintu yang juga dibuat lebih pendek dengan sedikit sinar matahari yang masuk. Sedangkan dapur dan kamar mandi berada di luar rumah.  

Suami isteri tidur terpisah

Masyarakat Suku Sasak Ende memiliki kehidupan keluarga yang unik (mertives/yani andriyansyah)


Setiap rumah dihuni satu keluarga. Bagian dalam untuk perempuan dan laki-laki tidur di luar. Nah pasangan yang baru menikah masih boleh tidur bersama di dalam. Ya istilahnya memberikan kesempatan pada mereka untuk bulan madu. Tapi setelah memiliki anak, mereka harus tidur terpisah. Tapi bukan untuk selamanya lho. Sang suami ketika ada keperluan khusus untuk masuk maka dia harus permisi terlebih dahulu kepada si isteri.

 

Ketika keluarga Suku Sasak memiliki anak perempuan, si anak bisa tidur dengan ibunya. Saat si anak beranjak remaja maka bagian dalam rumah harus disekat. Sebelah kanan untuk sang ibu dan sebelah kiri untuk anaknya. Nah kalau anaknya laki-laki beda lagi. Saat masih bayi, si anak bisa tidur bersama ibunya. Tapi setelah berusia tujuh atau delapan tahun, si anak harus tidur di luar dengan sang ayah. Unik ya? Nah dalam masyarakat Suku Sasak, anak laki-laki sangat penting untuk meneruskan garis keluarga.  

Kisah asmara yang unik  

Suku Sasak Ende punya budaya tersendiri untuk urusan cinta (mertives/yani andriyansyah)


Suku Sasak Ende punya budaya tersendiri untuk urusan cinta. Maklum mereka tidak mengenal istilah pacaran. Para cowok yang mau cari jodoh harus mencari gadis idamannya di dapur saat ada sebuah acara. Sebab, para gadis akan bertugas membantu urusan dapur. Nah di sinilah kesempatan para cowok mengincar gadis yang dia sukai. Uniknya, ketika sudah menentukan pilihan, maka gadis itu akan disenter sebagai penanda yang ia suka.

 

Tapi tidak menutup kemungkinan seorang gadis disukai lebih dari satu cowok. Kalau sudah begini tinggal si cowok yang harus kreatif melakukan pendekatan dengan mendatangi rumah si gadis di malam hari. Tapi nggak jarang, si gadis didatangi lebih dari satu cowok dalam waktu bersamaan.

 

Si gadis pun tidak boleh menolak kunjungan si cowok. Ketika cowok pertama berkunjung dan baru beberapa menit ngobrol dengan si gadis lalu datang cowok kedua, maka si cowok pertama harus meninggalkan rumah si gadis. Begitu juga untuk cowok ketiga, keempat dan seterusnya hingga batas waktu kunjungan berakhir yakni pukul 10.00 malam.   

 

Setelah sang gadis menentukan pilihan, maka dia pun sepakat untuk menjalin hubungan dengan cowok idamannya ke tingkat yang lebih serius. Biasanya akan dilakukan tradisi “kawin lari”. Si gadis bakal diculik oleh si cowok untuk di bawa ke rumah orangtuanya selama maksimal dua minggu. 

 

Ini bukan penculikan sungguhan. Waktu penculikan juga sudah disepakati antara si gadis dengan pasangannya. Tapi, aksi penculikan ini tidak boleh diketahui keluarga si gadis. Setelah itu, barulah nanti sang keluarga pria menghadap keluarga wanita dan pernikahan pun dilangsungkan dan pihak keluarga gadis tidak dapat menolak. Tidak ada pula tradisi seserahan atau hantaran yang dilakukan karena bagi mereka hal ini akan sangat memalukan jika dilakukan. Jika akan menikah dengan orang luar kampung, harus membayar denda yang cukup besar.

 

Bagi kaum pria Suku Sasak yang sudah dewasa, melakukan Tari Peresean adalah cara untuk membuktikan kejantanan. Tradisi ini dilakukan dua orang petarung (pepadu) untuk saling baku pukul. Kedua petarung dipersenjatai tongkat pemukul dari bilah rotan. Untuk melindungi tubuh, para petarung menggunakan tameng yang disebut Ende yang terbuat dari kulit kerbau yang cukup tebal. Tarian ini sudah diajarkan sejak kecil. Selain untuk membuktikan kejantanan, tarian ini juga dilakukan untuk meminta hujan.

Alat tenun dan baju hitam putih

Setiap rumah wajib memiliki alat tenun sederhana yang terbuat dari kayu (mertives/yani andriyansyah)

 

Menenun adalah pekerjaan turun temurun yang dilakukan kaum perempuan Suku Sasak. Karena itu, setiap rumah wajib memiliki alat tenun sederhana yang terbuat dari kayu. Oh iya, nggak cuma itu lho. Menenun juga menjadi syarat mutlak bagi kaum perempuan Suku Sasak untuk menikah. Jadi kalau belum bisa menenun maka nggak boleh menikah tuh. Ketika sudah berumah tangga, kain tenun yang dibuat si perempuan digunakan sebagai alas atau selimut ketika malam pertama.

 

Alat tenun ini akan diwariskan kepada anak perempuan secara turun temurun. Satu kain tenun bermotif subanale proses pembuatannya bisa memakan waktu sebulan. Nah subanale itu berasal dari kata Subhanallah. Kain tenun jenis ini rumit pembuatannya sehingga para penenun selalu menggelengkan kepala sambil mengucap Subhanallah.

 

Masyarakat Suku Sasak Ende juga punya cara berpakaian yang unik. Kaum perempuan menggunakan baju berwarna hitam yang melambangkan budaya. Sementara kaum pria menggunakan baju berwarna putih yang melambangkan agama. (mert/yans)






Catatan Perjalanan: Eksotisme Gili Trawangan


Pesona Gili Trawangan menjadi salah satu destinasi wisatawan (mertives/yani andriyansyah

Jumat, 14 November 2025

Catatan Perjalanan: Menjelajah “Surga” Bahari di Kepala Burung



MERTIVES-Bukan rahasia lagi, Indonesia menyimpan sejuta destinasi wisata. Salah satunya Raja Ampat di Papua Barat. Maklum, daerah yang berada di wilayah Kepala Burung ini dikenal sebagai surga bahari dunia karena menyimpan jutaan potensi wisata bahari yang tidak dimiliki daerah lain di dunia. Berdasarkan data Conservancy International, daerah yang dulunya dikenal sebagai “Kalana Fat” ini menyimpan 540 jenis karang keras (75% dari total jenis di dunia), lebih dari 1000 jenis ikan karang, 700 jenis moluska.

 

Disamping itu, perairan “Pulau Raja-Raja” ini juga memiliki catatan tertinggi untuk gonodactyloid stomatopoad crustanceans, biota laut jenis udang-udangan. Dengan formasi keindahan bentang alam yang memuat gugusan pulau pasir putih ditambah laguna berwarna-warni serta kekayaan biota laut, tak heran jika Raja Ampat disebut sebagai surganya pecinta wisata bahari.

Selain menyimpan keindahan alam yang eksotis, Raja Ampat juga kaya akan budaya. Sebut saja Pulau Arborek, yang menjadi kampung wisata di Raja Ampat. Di mana di pulau yang asri ini jajaran rumah tertata rapih menjadi salah satu simbol dari budaya Papua di pesisir Papua Barat, khususnya di Raja Ampat.

 

Pantai di pulau ini sangat jernih. Tak heran jika Arborek menjadi salah satu tempat favorit untuk kegiatan snorkeling. Masyarakat Arborek memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga tempat tinggal mereka.

"Sasi merupakan benteng bagi masyarakat Arborek untuk menjaga kelestarian alam"

Pulau ini juga dikenal dengan aneka kerajinan, diantaranya topi yang terbuat dari pandan hutan dan noken, tas khas Papua yang dikalungkan di kepala. 

Kebiasaan masyarakat Arborek menjaga kelestarian alam sejatinya tidak terlepas dari keraifan lokal yang disebut “Sasi”. Budaya yang berlaku secara umum di Raja Ampat ini merupakan benteng bagi masyarakat sekitar untuk menjaga kelestarian alam.

 

Budaya ini diterapkan dalam setahun. Jika dalam masa Sasi, masyarakat Raja Ampat dilarang mengambil hasil laut di sekitar pulau. Mereka baru boleh menangkap ikan ketika Sasi dibuka, dan itu hanya berlaku selama satu minggu saja. Jika ada yang melanggar, maka akan dikenakan sanksi berupa denda materi. Lewat budaya Sasi yang berlaku turun temurun, keindahan dan kelestarian alam Raja Ampat bisa terus dipertahankan. (mert/yans)

Pengembaraan Panjang Mencari Cinta Sejati

MERTIVES-Manusia seringkali terperangkap dalam kenangan masa lalu. Tak selamanya manis. Tak jarang manusia menjadi tawanan kenangan pahit nan tragis. Tapi, itulah kodrat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki ruang dalam otaknya untuk menampung segala macam kenangan yang berhasil direkamnya. Seringkali pula kenangan berjalan pararel dengan cinta. 

Sebuah kolaborasi perasaan yang acapkali menjerumuskan sepasang manusia pada ”ketidakberdayaan”. Entah karena terlalu menikmati nuansa romantis atau berupaya keras melarikan diri dari lilitan kenangan kelam yang membuatnya terjerembab sangat dalam ke jurang keputusasaan. Tragedi inilah yang menimpa Andi Jatmika, warga negara Indonesia yang menjadi tawanan tanpa identitas di penjara Guantanamo. 

Selama dua bulan dia diinterogasi dan menjalani siksaan. Tapi, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya yang keluh. Dia ditangkap oleh pasukan Amerika di pegunungan dekat Asmar, sebelah timur Afghanistan saat menenteng senapan Kalashnikov AK-47. Sebelum tertangkap, Andi yang sejatinya anak muda didikan pesantren di tanah Jawa telah melanglangbuana ke sejumlah negara. Mulai dari Tunisia, Sisilia di Italia hingga Afghanistan. Ironisnya, dia mengangkat senjata bukan karena membela ideologi. Tapi, sebagai pelarian untuk melupakan kisah cintanya yang tragis setelah ditinggalkan Larasati, kekasihnya yang meninggal akibat kelainan jantung bawaan. 

Ya, Sati, begitu Andi memanggil kekasihnya, telah membuat dirinya kehilangan separuh jiwanya dan terus berkelana mencari cinta sejati yang tak kunjung dijumpainya.Pengembaraan Andi untuk melepaskan diri dari setumpuk kenangan pahit inilah yang diungkapkan Qaris Tajudin dalam novel perdananya, Mahasati.Kisah pengembaraan mengubur masa lalu yang justru berakhir tragis di Penjara Guantanamo.

"Mahasati adalah penggambaran sebuah ritual panjang seorang laki-laki dalam pengembaraan mencari cinta sejati"

Novel ini berhasil memadukan kisah cinta yang tulus dan lekat dengan pengembaraan untuk melupakan dan menemukan. Sebuah pengembaraan tanpa perencanaan. Termasuk gelora dan semangat pergerakan kaum muda dan pencarian jati diri lewat pergolakan batin. Qaris berhasil menuturkan dengan bahasa yang cerdas, puitis, dan berani. Bahkan, berkat pengalamanya sebagai jurnalis di sebuah media nasional, Qaris bisa menceritakan secara detail setiap pergolakan yang terjadi di Tunisia, Sisilia dan Afghanistan pada masa kekuasaan Taliban, tanpa bertele-tele. Mahasati adalah nama sebuah patung di India yang dibangun untuk mengabadikan sebuah ritual kuno tentang kesetiaan istri-istri terhadap suami. Sang istri rela bunuh diri menceburkan tubuhnya ke dalam api perabuan suaminya sebagai simbol kesetiaan. Tradisi itu dikenal dengan nama Sati. 

Sebuah nama yang mirip dengan nama tokoh dalam novel ini. Kisah dalam novel ini bermula dari persahabatan tiga kawan karib semasa kecil di tanah Jawa, Andi, Larasati, dan Yoyok yang kerap disapa Item. Persahabatan ketiganya terus berlangsung hingga remaja. Sebuah proses alamiah tentang perasaan cinta tumbuh diantara Andi dan Sati. Sayang, benih cinta sepasang anak manusia itu hanya mekar sesaat. Hubungan keduanya sebagai sepasang kekasih kandas jelang tamat SMA. Ternyata keduanya lebih menikmati sebagai teman. Tidak ada yang istimewa ketika mereka menjalin kasih. Keduanya benar-benar berpisah setelah tamat SMA. 

Nasib dan perjalanan waktu memisah ketiganya untuk menjalani jalan hidupnya masing-masing. Andi kuliah di Jakarta dan akhirnya menjadi seorang wartawan. Yoyok menjadi seorang perajin emas di kota kelahirannya, dan Sati menjadi seorang desainer di Jakarta. Sati terpaksa lari ke Jakarta setelah berkonflik dengan ayahnya. Kematian Yoyok akibat kecelakaan ledakan tabung gas di tempat usahanya, membuat Andi dan Sati kembali bertemu setelah puluhan tahun berpisah. Keduanya bertemu saat pemakaman Yoyok. Mereka mencoba membuka kembali tentang kenangan indah yang pernah terbangun. Masih tersisakah kenangan yang bisa dipugar kembali menjadi sebuah bangunan cinta yang kokoh? Andi berharap bisa merajut kembali cinta sejatinya dengan Sati, yang telah memiliki seorang putri, Rania, hasil hubungan gelapnya dengan lelaki lain. 

Meski begitu, Andi tetap mencintainya lebih dari apapun. Sati di mata Andi adalah sosok wanita laksana oase di gurun tandus.Tapi, bahtera cinta keduanya kembali kandas. Kali ini lebih tragis. Sati meninggal dunia tatkala cinta lama mereka tengah dirajut helai demi helai. Sati menemui ajal lantaran menenggak valium dalam dosis tinggi. Sati frustrasi akibat hak perwalian terhadap Rania dicabut.  Kehilangan Sati membuat separuh jiwa Andi ikut terkubur. Dia pun tenggelam dalam jurang frustrasi berkepanjangan dan harus menjalankan ritual Sati. Untuk mengubur semua kenangan indah bersama Sati, Andi pun memulai pengembaraan ke Kairouan, Tunisia. 

Andi mengunjungi rumah keluarga Charief Saeed, kenalan Hafiz teman sekampungnya. Di tempat inilah Andi bertemu dengan Abdalla ben M’rad, pemilik toko buku. Di sinilah Andi berkenalan dengan Kemal, adik Abdalla, dan Ahmed, anak lelaki Abdalla. Keduanya adalah tokoh pergerakan Islam di Tunisia. Tanpa disadarinya, Andi telah masuk dalam lingkaran kelompok pergerakan penentang pemerintah Tunisia. Bagi Andi, apa yang dilakukannya bukanlah berdasarkan ideologi. Semata-mata hanya karena ingin melupakan bayang-bayang Sati. Termasuk ketika dia bertemu Miriam, seorang gadis Yahudi, mahasiswi sastra Universitas Kairouan yang mencintainya. Andi tidak bisa menerima Miriam apa adanya karena dia masih belum bisa melupakan Sati.

Penangkapan para anggota pergerakan oleh pemerintah Tunisia membuat Andi harus meninggalkan Kairouan. Lagi-lagi dia harus menjalankan pengembaraan. Lewat bantuan Miriam, dia dan Ahmed berhasil menyelundup ke Sisilia. Hingga akhirnya kedua pemuda tersebut masuk ke dalam jaringan mafia kelas atas di Sisilia. Tapi, perjalanan hidup Andi tidak berhenti sampai disitu. Konflik yang terjadi di kalangan mafia Sisilia membuatnya harus meninggalkan Italia. Kini tujuannya adalah Afghanistan, negeri yang tengah berkecamuk perang saudara antara pasukan Taliban dan Mujahidin. Pertemuannya dengan Fairuz, membuatnya menetapkan pilihan untuk menjadi pengawal bersenjata suku-suku nomaden di pegunungan Hindu Kush. 

Di medan pegunungan yang berbahaya itulah ia bertemu dengan Nafas, sosok perempuan yang nyaris menyerupai Sati. Akhirnya Andi tertangkap dan dibawa ke Guantanamo karena dianggap sebagai anggota kelompok yang dianggap negera Barat sebagai ”teroris”.Selama dua bulan di Guantanamo, Andi menjalani interogasi dan penyiksaan. Pemerintah Amerika terus berupaya untuk mengorek keterangan dari dirinya. Tapi, Andi bersikukuhy mengunci mulutnya. Hingga akhirnya seorang interogator berdarah Asia, Lucia Wong diturunkan. Metode tanpa kekerasan yang diterapkan Lucia ternyata mampu membuka mulut Andi yang selama dua bulan bungkam. 

Kepada Lucia, Andi mengisahkan perjalanan hidupnya secara langsung dan melalui tulisannya di sebuah buku yang ditulisnya di penjara.Dengan sudut pandang bercerita yang bergantian antara Andi dan Lucia, novel ini terkesan berkisah melompat-lompat. Tapi, itulah seninya yang membuat pembaca harus terus membuka lembar demi lembar agar cerita terangkai utuh. Meski digarap secara cerdas dan apik, novel ini masih menyisakan pertanyaan yang tak terjawab. Misalnya, saat Sati secara tiba-tiba memiliki kelainan jantung bawaan. Padahal, saat kecil Sati berhasil menang tarung balap sepeda dengan Item. Terlebih, sebelumnya tidak pernah disinggung kalau Sati memiliki penyakit tersebut. Tapi, secara keseluruhan, Mahasati adalah penggambaran sebuah ritual panjang seorang laki-laki dalam pengembaraan mencari cinta sejati. (mert/yans) - (Repost)

Selasa, 11 November 2025

Belajar Kesetiaan dari Hachiko di Depan Stasiun Shibuya Hingga Akhir Hayat

Hachiko yang tidak tahu tuannya meninggal, tetap mendatangi Stasiun Shibuya setiap hari

Hachiko (Yahoo Auctions-Japan) '

MERTIVES-Sekitar enam tahun lalu, saya menyambangi Negeri Sakura. Entah apa yang merasuki pikiran ketika itu, sejak awal perjalanan, saya sudah berniat mengunjungi patung anjing legendaris jenis Akita, Hachiko di dekat Stasiun Shibuya.
Mungkin karena sebelumnya saya pernah membaca kisah Hachiko dari sebuah buku cerita yang saya beli di tempat kulakan di bilangan Kota Bambu, Tomang, Jakarta Barat pada 2011. Saya membeli buku tersebut sebenarnya tidak sengaja. Saat sedang bersepeda di pagi hari, ada seorang bapak separuh baya, pengumpul barang-barang bekas menurunkan bawaannya dari gerobak lusuh. 
Ternyata dari beberapa karung yang diturunkan, ada satu karung yang berisi banyak buku. Tak ada yang peduli dengan buku-buku itu. Kebanyakan orang di sekitar tempat kulakan itu mencari barang-barang elektronik, peralatan dapur, atau suku cadang motor. Saya langsung saja menuju tumpukan buku dan memilah-milah. Dari sekian banyak buku yang saya bolak balik, ada satu buku yang membuat saya tertarik, Hachiko: The True Story of a Loyal Dog terbitan 2009 karya Pamela S. Turner. Langsung saja saya beli buku tersebut dengan harga Rp15.000.    

Cover buku Hachiko: The True Story of a Loyal Dog

Sebelumnya, saya juga pernah menonton film Hachi: A Dog's Tale (2009) karya sutradara Lasse Hallstrom. Film ini dibintangi Richard Gere yang berperan sebagai Professor Wilson. Film yang diangkat dari kisah nyata Hachiko, anjing yang lahir pada 10 November 1923 di sebuah peternakan dekat kota Odate, Akita Prefecture, cukup menguras air mata. Hachiko dikenal karena kesetiaannya yang luar biasa kepada tuannya, Profesor Hidesaburo Ueno. Hachiko diadopsi sebagai hewan peliharaan pada 1924. Sejak dirawat Ueno, Hachiko selalu menanti tuannya di Stasiun Shibuya setiap hari setelah perjalanan pulang dari kerja. Namun, 21 Mei 1925, Ueno meninggal dunia secara mendadak akibat pendarahan otak di Universitas Tokyo, tempatnya mengajar. 

Foto terakhir Hachiko (Shibuya Folk and Literary Shirane Memorial Museum-Yamato Shimbun (Asahi) 


Hachiko yang tidak tahu tuannya meninggal, tetap mendatangi Stasiun Shibuya setiap hari. Hachiko kembali ke Stasiun Shibuya setiap hari untuk menunggu kepulangan Ueno di waktu yang sama. Hachiko terus menanti tuannya, hingga ajal menjemputnya pada 8 Maret 1935. 


Hachiko mati di dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya akibat infeksi filaria serta kanker hati dan paru-paru. Hampir satu dekade Hachiko menunggu tuannya dengan setia di tempat dan waktu yang sama. 


"Hachiko kembali ke Stasiun Shibuya setiap hari untuk menunggu kepulangan Ueno di waktu yang sama"


Hachiko menjadi sebuah simbol kesetiaan. Untuk mengabadikannya, pemerintah Jepang membangun sebuah patung di dekat Stasiun Shibuya. Karena kesetiannya itu Hachiko menjadi karakter lokal yang popular. Hachiko dan tuannya dimakamkan bersebelahan di pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachiko diopset dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan Ueno, Tokyo. 


Patung Hachiko yang berdiri kokoh di dekat Stasiun Shibuya adalah titik fokus ingatannya di mana ia selalu menunggu tuannya dengan setia, tak peduli panas, hujan ataupun salju.

Patung Hachiko di Stasiun Shibuya yang menjadi simbol sebuah kesetiaan (dok pribadi yani andriyansyah) 

Setelah melihat kembali kenangan perjalanan ke Jepang enam tahun lalu, pikiran saya terus melambung. Suatu saat ketika ada kesempatan lagi mengunjungi Jepang, saya berniat akan mendatangi pemakaman Aoyama di mana Hachiko dan Ueno dimakamkan berdampingan. (mert/yans)